Layanan Live Video Call dapat diakses melalui link Skype dan Yahoo Messenger
Skype
Jumat, 26 Juli 2013
Sabtu, 13 April 2013
Times 11
Pengertian tentang Tata Kelola Teknologi Informasi
Tata kelola teknologi informasi merupakan bagian terintegrasi dari tata kelola perusahaan yang mencakup kepemimpinan, struktur serta proses organisasi yang memastikan bahwa teknologi informasi perusahaan dapat dipergunakan untuk mempertahankan dan memperluas strategi dan tujuan organisasi.
Kerangka dan Komponen-komponen dalam Tata Kelola Teknologi Informasi
Pengertian tentang Tata Kelola Teknologi Informasi
Tata kelola teknologi informasi merupakan bagian terintegrasi dari tata kelola perusahaan yang mencakup kepemimpinan, struktur serta proses organisasi yang memastikan bahwa teknologi informasi perusahaan dapat dipergunakan untuk mempertahankan dan memperluas strategi dan tujuan organisasi.
Kerangka dan Komponen-komponen dalam Tata Kelola Teknologi Informasi
Penyelarasan Strategis (Strategic Alignment)
Memfokuskan
kepastian terhadap keterkaitan antara strategi bisnis dan TI serta penyelarasan
antara operasional TI dengan bisnis.
2 Penyampaian Nilai (Value Delivery)
Mencakup
hal-hal yang terkait dengan penyampaian nilai yang memastikan bahwa TI memenuhi
manfaat yang dijanjikan dengan memfokuskan pada pengoptimalan biaya dan
pembuktian nilai hakiki akan keberadaan TI.
3 Pengelolaan Sumber Daya (Resource Management)
Berkaitan
dengan pengoptimalan investasi yang dilakukan dan pengelolaan secara tepat dari
sumber daya TI yang kritis mencakup : aplikasi, informasi, infrastruktur dan
Sumber Daya Manusia (SDM). Isu kunci area ini berhubungan dengan pengoptimalan
pengetahuan dan infrastruktur.
4 Pengelolaan Resiko (Risk Management)
Membutuhkan
kepekaan akan resiko oleh manajemen senior, pemahaman yang jelas akan perhatian
perusahaan terhadap keberadaan resiko, pemahaman kebutuhan akan kepatutan,
transparansi akan resiko yang signifikan terhadap proses bisnis perusahaan dan
tanggung jawab pengelolaan resiko ke dalam organisasi itu sendiri.
5
Pengukuran Kinerja (Performance Measurement)
Penelusuran
dan pengawasan implementasi dari strategi, pemenuhan proyek yang berjalan,
penggunaan sumber daya, kinerja proses dan penyampaian layanan dengan
menggunakan kerangka kerja seperti Balanced Scorecard yang menerjemahkan
strategi ke dalam tindakan untuk mencapai tujuan terukur dibandingkan dengan
akuntansi konvensional.
Pernyataan Weil & Rose tentang IT Governance terdapa 5 komponen :
Kelima pilar tata kelola TI tersebut adalah
·
IT
Principles, merupakan suatu pertanyaan top level manajemen tentang bagaimana TI
digunakan dalam bisnis organisasi.
·
IT
architecture, mendefinisikan integrasi dan standardisasi dalam sistem.
·
IT
Infrastructure, menentukan layanan yang digunakan bersama(share service).
·
IT
Business Application Needs, menentukan pemenuhan kebutuhan aplikasi bisnis
dengan membangun aplikasi bisnis yang perlu diadakan atau dikembangkan oleh TI.
·
IT
Investment. (Lihat Gambar). merupakan keputusan-keputusan yang terkait dengan
inisiatif mana yang perlu diprioritaskan dan berapa banyak yang perlu
dikeluarkan.
Kelima dasar ini sangat penting untuk dipahami oleh sebuah
organisasi agar dapat menjadi bagian dari good corporate governance.
Keputusan-keputusan tersebut bukan hanya keputusan yang
independen melainkan adalah sesuatu yang saling berhubungan.Keterhubungannya
dapat kita lihat melalui 6 archetype pengambil keputusan yakni :
·
Business
Monarchy yakni jajaran direksi dan komisaris.
·
IT
Monarchy yakni manajemen TI.
·
Feudal
yakni setip divisi atau unit bisnis membuat keputusan sendiri secara
independen.
·
IT
duopoly yakni TI dan salah satu top manajemen atau pemimpin unit bisnis.
·
Anarchy yakni pengambilan keputusan secara independen oleh
individual atau kelompok-kelompok kecil.
Minggu, 07 April 2013
Times 10
Enterprise Resources Planning (ERP)
ERP (Enterprise Resource Planning) adalah sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber daya perusahaan meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas yang berpengaruh luas mulai dari manajemen paling atas hingga operasional di sebuah perusahaan agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai tambah bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) atas perusahaan tersebut.
Enterprise Resources Planning (ERP)
ERP (Enterprise Resource Planning) adalah sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber daya perusahaan meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas yang berpengaruh luas mulai dari manajemen paling atas hingga operasional di sebuah perusahaan agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai tambah bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) atas perusahaan tersebut.
ERP berfungsi mengintegrasikan proses-proses
penciptaan produk atau jasa perusahaan, mulai dari pemesanan bahan-bahan mentah
dan fasilitas produksi sampai dengan terciptanya produk jadi yang siap
ditawarkan kepada pelanggan (Indrajit, Djokopranoto, 2002). Selain itu ERP juga
membantu mengintegrasikan data-data didalam organisasi didalam sebuah platform yang
umum (ERP Wire, 2006).
Komponen-komponen utama dalam ERP
Komponen-komponen utama dalam ERP
a. Modul Operasi
Terdiri
atas General Logistic, Sales and Distribution, MaterialsManagement, Logistic
Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service, Production
Planning and Control, Project System, Environment Management
b.
Modul
Finansial dan Akunting
Terdiri
atas General Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment
Management, Treasury, Enterprise Controlling
c.
Modul
Sumber Daya Manusia
Terdiri
atas Personnel Management, Personnel Time Management,Payroll, Training and
Event Management, Organizational Management, Travel Management
Penyebab kegagalan implementasi ERP
Penyebab kegagalan implementasi ERP
·
Waktu dan biaya implementasi yang melebihi
anggaran.
·
Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik.
·
Strategi operasi tidak sejalan dengan business
process design dan pengembangannya.
·
Orang-orang tidak disiapkan untuk menerima dan
beroperasi dengan sistem yang baru.
Faktor-faktor yang menyebabkan suatu
ERP gagal di implementasikan adalah sebagai berikut:
·
Waktu dan biaya implementasi yang
melebihi anggaran.
·
Pre-implementation tidak dilakukan
dengan baik.
·
Strategi operasi tidak sejalan dengan
business process design dan pengembangannya.
·
Orang-orang tidak disiapkan untuk
menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru
Indikator kegagalan
dalam pengimplementasi ERP adalah sebagai berikut :
·
Kurangnya komitmen top management.
·
Kurangnya pendefinisian kebutuhan
perusahaan (analisa strategi bisnis).
·
Cacatnya proses seleksi software (tidak
lengkap atau terburu-buru memutuskan).
·
Kurangnya sumber daya (manusia, infrastruktur
dan modal).
·
Kurangnya ‘buy in’ sehingga muncul
resistensi untuk berubah dari para karyawan.
·
Kesalahan penghitungan waktu
implementasi.
·
Tidak cocoknya software dengan business
process.
·
Kurangnya training dan pembelajaran.
·
Cacatnya project design &
management.
·
Kurangnya komunikasi.
·
Saran penghematan yang menyesatkan.
.
Times 9
Apa yang dimaksud dengan Customer Relationship Management
CRM adalah adalah suatu jenis strategi perusahaan yang secara khusus membahas teori mengenai
penanganan hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya dengan tujuan
meningkatkan nilai perusahaan di mata para pelanggannya.CRM juga dapat
didefinisikan sebagai strategi atau
pendekatan yang diterapkan suatu organisasi untuk mempelajari kebiasaan dan
keperluan pelanggan sehingga suatu organisasi memiliki hubungan yang lebih
dekat ke pelanggan. Terdapat juga pengertian lain dari CRM, dimana CRM
didefinisikan sebagai sistem informasi yang terintegrasi yang digunakan untuk
merencanakan, menjadwalkan, dan mengendalikan aktivitas-aktivitas prapenjualan
dan pascapenjualan dalam sebuah organisasi.
Berdasarkan definisi tersebut terlihat bahwa CRM
bukan hanya sebagai suatu teknologi yang diwujudkan dalam bentuk system
informasi tetapi lebih tepatnya adalah suatu
strategi perusahaan yang diwujudkan dengan bantuan teknologi dengan
penekanan hubungan terhadap pelanggan yang lebih baik.Hal ini senada dengan
pernyataan Glen Petersen dalam bukunya “ROI: Building the CRM Business
Case”,dimana ia mengatakan “Sistem CRM yang paling sukses ditemukan dalam
organisasi yang menyesuaikan model bisnisnya untuk profitabilitas, bukan hanya
merancang ulang sistem informasinya.
Tujuan dan Karakteristik Customer Relationship Management
Tujuan CRM menurut Kalakota, Robinson (2001):
·
Meningkatkan
hubungan antara perusahaan dengan pelanggan yang sudah ada untuk meningkatkan
pendapatan perusahaan. Menyediakan informasi yang lengkap mengenai pelanggan
untuk memaksimalkan jalinan hubungan pelangan dengan perusahan melalui
penjualan secara up-selling dan cross-selling, dengan demikian pada saat yang
bersamaan dapat meningkatkan keuntungan dengan cara mengidentifikasikan,
menarik serta mempertahankan pelanggan yang paling memberikan nilai tambah bagi
perusahaan.
·
Menggunakan
informasi yang terintegrasi untuk menghasilkan pelayanan yang paling memuaskan
dengan memanfaatkan informasi pelanggan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan
sehingga dapat menghemat waktu pelanggan dan mengurangi frustasi.
·
Menghasilkan
konsistensi dalam prosedur dan proses saluran jawaban kepada pelanggan.
Proses-proses utama dalam Customer Relationship Management
1. Mengidentifikasi Customers
1. Mengidentifikasi Customers
Informasi
adalah pengerak CRM. Perusahaan mendapatkan informasi mengenai individual
customers dari berbagai sumber seperti, force, customers service ecounter, bar
code scanners dan website. Semakin banyak informasi yang dimiliki perusahaan,
semakin baik nilai yang bias disediakan bagi customers dan calon customers
dalam hal keakuratan, ketepatan waktu dan dapat memberikan penawaran yang masuk
akal.
2. Membedakan Customers
Customers
memiliki perbedaan kebutuhan. Internet memungkinkan
perusahaan
untuk mengumpulkan informasi untuk mengidentifikasi berbagai kesamaan maupun
perbedaan individu dan kelompok, kemudian menggunakannya untuk meningkatkan
keuntungan.
3. Menyesuaikan Marketing
Interaksi
dengan customers adalah suatu yang memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan
data yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan membedakan, serta untuk
mengevaluasi keefektifan hasil penyesuaian marketing.
Aplikasi-aplikasi yang digunakan dalam Customer Relationship Management
•Microsoft CRM : Seperti kebanyakan produk
microsoft, Microsoft Dynamics CRM ini memiliki kemudahan dalam integrasi dengan
produk microsoft lainnnya seperti Office dan Outlook. Dan jika perusahaan Anda
menerapkan Software Dynamic lainnya spt NAV, maka bisa saling sharing database
pelanggannya yang ada di NAV dan CRM
•sugar CRM : ini adalah sebuah software CRM
berbasis open source yang paling populer.
•tine20 : juga merupakan software CRM berbasis open
source
Times 8
Penjelasan tentang e-Marketing
Suatu
usaha yang dilakukan untuk melakukan pemasaran suatu produk atau jasa dengan
menggunakan media Internet. Kata e dalam e-marketing ini dapat di artikan
sebagai elektronik (electronic) yang artinya kegiatan pemasaran yang dilakukan
secara elektronik, yang dalam hal ini melalui internet
Hubungan strategi
e-Marketing dengan strategi e-Business
Strategi
e-Marketing :
·
Melakukan
Riset Pasar. Proses marketing dimulai dari riset pasar untuk melihat seberapa
besar potensi pasar, mengukur tingkat kebutuhan pasar, peluang pasar, dan ragam
segmen yang tersedia. Juga mengetahui tingkat persaingan di pasar
tersebut.Sebagai contoh, sebelum meluncurkan Rumusan Rahasia Blogging, saya
lihat betapa pasar blogging begitu besar. Tingkat kebutuhannya sangat tinggi. Pemilik
blog masih sangat terbatas. Dan setahu saya, belum ada produk lain yang secara
menyeluruh membahas secara tuntas dari A sampai Z tentang blogging. Rahasia
Blogging bukan sekedar membahas tentang bagaimana membuat blog dan menghasilkan
uang dari blogging. Namun lebih dari itu membuat blog sukses spektakuler.
·
Mengembangkan
Strategi Marketing. Dengan memperhitungkan keunggulan anda, anda siapkan
strategi positioning dan brand produk anda.
·
Menetapkan
Program Marketing. Dari strategi marketing tersebut, kemudian lebih rinci ke
program marketing. Apa sajakah program marketing yang anda rencanakan? Misalkan
ketika baru meluncurkan produk, anda bertumpu pada SEO, PPC, dan beriklan di
situs web iklan seperti iklan jitu.
·
Evaluasi
dan Perbaikan. Pada tahap terakhir ini kita lihat bagaimana hasil dari
program-program marketing tersebut. Sudah sesuaikah dengan target anda? Dan
dari hasilnya anda bisa rumuskan kembali program marketing apa yang perlu
diperbaiki, mana yang perlu diperkuat, mana yang perlu dikurangi atau mungkin
perlu ditiadakan. Dan begitu seterusnya.
Contoh alat/tools berbasis TI
yang mendukung implementasi e-marketing
a.
Kebutuhan
perangkat keras dalam IT
o Server.
·
Processor: Intel
Core 2 Duo 2.4 Ghz.
·
Hardisk:
160 Gb.
·
Memory: 2
Gb.
·
VGA card:
512 Mb.
·
Modem: ADSL
dan Cable.
·
Monitor:
resolusi 1024 x 768 atau lebih.
o Client.
·
Processor: Pentium
IV 2.2.
·
Hardisk: 20
Gb.
·
Memory:
256 Mb.
·
VGA card:
128 Mb.
·
Modem: Dial-Up, ADSL dan Cable.
b.
Kebutuhan
perangkat lunak dalam IT
o Server.
·
Operating System:
Mac OS X 10.5.
·
Browser:
Safari 3.0, Mozilla Firefox 2.0 atau Internet Explorer 7.0.
·
Web Design:
Rapidweaver 4.2.
·
Open Source:
www.123guestbook.com
·
Adobe
Flash 10.
o Client
·
Operating
System: Mac OS atau Windows XP.
·
Browser:
Safari 1.0, Mozilla Firefox 1.0 atau
Internet Explorer 6.0.
Beberapa penjelasan Paul Smith yang memperkenalkan metode SOSTAC
dalam perencanaan pemasaran (marketing plan)
a.
Situation analysis (Where Are We Now?)
Situation
Review atau Situation Analysis merupakan tahapan pertama yang
harus dilakukan dalam menyusun perencanaan pembangunan e-marketing, dimana dalam tahapan ini akan dilakukan analisis
mengenai kondisi atau tingkat keefektifan dari aktivitas marketing yang
sekarang berjalan di perusahaan. Hasil analisis yang diperoleh akan digunakan
sebagai bahan untuk mendefinisikan strategi marketing
yang baru .
Pada
tahap ini tugas yang harus dilakukan adalah menganalisis dan memahami kondisi
perusahaan di dalam marketplace,
dengan cara mengumpulka n informasi mengenai keadaan lingkungan eksternal perusahaan dan keadaan internal perusahaan.
b.
Objectives (Where Do We Want to Be?)
Setelah
perusahaan mengetahui posisi mereka secara tepat dalam marketplace, sekarang
saatnya menentukan tujuan. Adanya penetapan tujuan dapat membantu mengarahkan
perusahaan supaya tetap fokus hanya pada
hal-hal yang ingin di capai. Membuat tujuan bukanlah hal yang mudah, akan
tetapi panduan SMART bisa dijadikan pedoman dalam membuat tujuan yang spesifik.
SMART
merupakan singkatan Specific, Measurable, Actionable, Relevant dan Time-Releated, dimana definisinya adalah
sebagai berikut :
·
Specific :
Tujuan yang dibuat harus mempunyai cukup detail sehingga dapat digunakan
sebagai pedoman pembuatan strategi yang tepat sasaran
·
Measurable
: Tujuan yang diteapkan harus bisa diukur baik secara kualitatif atau
kuantitatif, sehingga perusahaan bisa mengontrol secara berkala apakah tujuan
tersebut sudah tercapai atau belum.
·
Actionable :
Tujuan yang dibuat harus realistis atau dapat dilaksanaka. Untuk mengukur hal
ini, dibandingkan kemampuan yang dimiliki dengan tujuan yang ingin dicapai.
Bila kemampuan yang dimiliki tidak bisa memenuhi pencapaian tujuan, berarti
tujuan tersebut bukanlah yang bersifat actionable.
·
Relevant : Tujuan
yang dibuat harus relevan dengan masalah yang ingin diselesaikan.
·
Time –Releated : Tujuan
yang telah dibuat harus dilengkapi dengan target waktu atau deadline yang pasti, sehingga bisa memacu perusahaan mencapai tujuan
tersebut tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Pada intinya bila
perusahaan mempunyai tujuan jelas dan
specific, daftar tujuan itu akan dapat membantu perusahaan supaya lebih
terarah dalam melaksanakan perencanaan dan membudahkan perusahaan dalam proses
evaluasi untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam mencapai tujuan.
c.
Strategy Formulation (How Do We Get There?)
Setelah tujuan yang ingin dicapai berhasil
dirumuskan pada tahap sebelumnya, maka
penyusunan strategi yang tepat sasaran dapat dilakukan. Menurut Dave
Chaffey dan P.R. Smith pada bukunya e-Marketing
Excellence, strategi itu sendiri hanya merupakan panduan umum untuk
mencapai tujuan.
d.
Tactic (How Exactly Do We Get There?)
Pada intinya perbedaan strategi dengan taktik
adalah merumuskan panduan umum yang akan dilakukan perusahaan untuk mencapai
tujuan, sedangkan taktik merumuskan detail langkah atau tahap seperti apa yang
akan dilakukan untuk pelaksanaan strategi tersebut.
e.
Action (What is Our Plan?)
Setelah berhasil merumuskan taktik, saatnya untuk
memecah taktik itu menjadi suatu rangkaian rencana kerja yang terstruktur dan
terjadwal. Pada tahap ini bisa dibuat suatu jadwal kerja dalam bentuk Flow
Chart, Gantt Chart, membuat perencanaa
budget alokasi sumber daya secara mendetail, membuat risk management plan, dan lain-lain.
f.
Control
(Did We Get There?)
Fungsi kontrol disini adalah untuk memonitor dan
mengevaluasi secara berkala apakah
aplikasi e-marketing yang
telah diterapkan perusahaan sudah berhasil mencapai tujuan atau belum.
Times 7
Apasih yang dimaksud dengan e-procurement?
E-procurement merupakan sistem pengadaan barang
atau jasa dengan menggunakan media elektronik seperti internet atau jaringan
komputer. E-procurement diterapkan dalam proses pembelian dan penjualan secara
online supaya lebih efisien dan efektif. E-procurement mengurangi proses-proses
yang tidak diperlukan dalam sebuah proses bisnis. Dalam prakteknya,
e-procurement mengurangi penggunaan kertas, menghemat waktu dan mengurangi
penggunaan tenaga kerja dalam prosesnya.
Kesimpulan: E-procurement sangat berguna dalam
proses bisnis untuk mengurangi waste, namun untuk set up e-procurement
membutuhkan investasi yang cukup besar. Ini lah salah satu sebab mengapa belum
semua perusahaan menerapkan e-procurement dalam proses bisnisnya. Namun, jika
e-procurement diterapkan dengan benar dalam suatu bisnis, maka hasilnya akan memberikan
profit kepada perusahaan.
Komponen-komponen yang berpengaruh dalam e-procurement
Ø At the right place.
Ø Delivered at the right time.
Ø Are of the right quality.
Ø Of the right quantity.
Ø From the right source.
Ø At The Right Place
E-procurement
memastikan bahwa barang dikirim ke tempat yang benar. Hal ini meningkatkan
efektifitas karena barang akan sampai ke tempat yang benar dengan tingkat
keakuratan 100% karena jalur pengiriman sudah diatur oleh sistem.
Ø Delivered At The Right Time
E-procurement
memastikan bahwa setiap barang dikirim tepat waktu. Hal ini juga meningkatkan
efektifitas perusahaan dalam proses bisnisnya karena perusahaan bisa
mendapatkan material-material yang dibutuhkan tepat waktu.
Ø Are Of The Right Quality
E-procurement
memastikan bahwa kualitas barang yang sampai di tangan perusahaan benar-benar
sama dengan yang dipesan. Hal ini meningkatkan efisiensi perusahaan karena
kualitas barang yang terjamin sehingga berpotensi mengurangi kemungkinan
terjadi defect.
Ø Of The Right Quantity
E-procurement
memastikan bahwa barang yang dipesan sampai dengan jumlah yang tepat. Hal ini
memastikan bahwa tidak ada kehilangan yang menyebabkan kerugian bagi
perusahaan. Perusahaan juga tidak perlu mengecek jumlah barang lagi karena akan
memakan waktu yang panjang dan terbuang sia-sia.
Ø From The Right Source
E-procurement
memastikan bahwa barang yang dipesan berasal dari sumber yang benar. Hal ini
sangatlah berguna untuk menghilangkan pemalsuan terhadap barang yang dipesan,
sehingga mendukung efektifitas dan efisiensi perusahaan dalam proses bisnisnya.
Manfaat e-procurement dan permasalahan yang muncul dalam implementasi e-procurement!
Manfaat E-Procurement
v
Efisiensi Waktu
v
Pengurangan
biaya administrasi
v
Mengurangi
kegiatan interkasi antar manusia
v
Kontrol
manajemen yang baik
v
Mengurangi
tingkat kesalahan
Permasalahan
yang mungkin saja muncul E-Procurement
Walaupun
tren-tren yang ada positif, ada halangan dalam penerapan e-procurement. Banyak
bisnis kecil dan menengah lambat dalam pengadaan secara online, karena
batasan-batasan dalam mengintegrasikan platform pengadaan dengan sistem yang
sudah ada dan kurangnya standar data. E-procurement dalam sektor B2C(Bussines-to-Consumer)
juga lambat untuk diterima karena jalur-jalur rantai suplai tidak sepenuhnya
mendukung e-bisnis. Salah satu halangan adalah tidak banyak pemasok yang
memiliki perlengkapan untuk berpartisispasi dalam sebuah proses e-procurement.
Mereka harus berinvestasi dalam pembuatan interface yang sesuai dan dalam
beberapa kasus customer enggan berpartisipasi.
E-procurement
mempengaruhi setiap fungsi dalam perusahaan dan dapat berkembang melampaui
proses procurement saja. Hal ini dapat memperkenalkan pemasok baru dan peran
baru bagi pemasok yang ada seperti bank dan perusahaan logistik. Dalam banyak
kasus, prosendur pengendalian keuangan dan kebijakan komitmen harus
disesuaikan, di mana kegagalan terhadap hal ini akan berpengaruh negatif pada
pengembalian investasi.
Beberapa
dari masalah yang perlu diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan yang ingin
menerapkan solusi e-procurement yaitu :
·
Pemasok-pemasok yang mampu mendukung fitur
elektronik.
·
Pencarian pemasok baru.
·
Kebutuhan akan kolaborasi yang kuat.
·
Kemampuan untuk menyampaikan.
·
Biaya transaksi.
·
Pada keadaan tertentu, ketersediaan content dan
transparansi proses
Times 6
Pengertian Supply Chain Management (SCM)
Rantai pasokan mencakup semua bagian diantaranya
suppliers, produsen, distributor dan pelanggan, baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam memenuhi permintaan pelanggan. Rantai pasokan meliputi
tidak hanya pada pembuat dan suppliers tetapi juga pengangkut, gudang,
pengecer, dan bahkan pelanggan itu sendiri.
Pada tiap-tiap organisasi seperti perusahaan
manufaktur, rantai pasokan meliputi seluruh fungsi-fungsi yang terlibat dalam
penerimaan dan pengisian permintaan pelanggan. Fungsi ini termasuk, tetapi
tidak dibatasi, perkembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi,
keuangan, dan customer service.
Rantai pasokan merupakan hal yang dinamis dan
melibatkan aliran informasi yang konstan, produk, dan keuangan antar
tingkat-tingkat yang berbeda. Pada kenyataannya, tujuan utama dari berbagai
rantai pasokan adalah memenuhi kebutuhan pelanggan dan dalam prosesnya,
menghasilkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Rantai pasokan menimbulkan gambaran atas pergerakan
produk atau pasokan dari supplier kepada pembuat produk, distributor, pengecer,
pelanggan sepanjang rantai.
Supply chain biasanya melibatkan variasi dari
tingkat-tingkat. Tingkat-tingkat ini meliputi:
1. Pelanggan
2. Pengecer
3. Distributor
4. Pembuat
produk
5. Komponen
atau supplier bahan baku.
Perkembangan SCM dari tahun ke tahun
Jaringan logistic meliputi
supplier,gudang(Warehouse),pusat distribusi,retail juga bahan baku.Barang
setengah jadi dan barang jadi yang mengalir di antara fungsi-fungsi bisnis yang
bersangkutan.
·
Pada tahun 1970an logistik menjadi bagian dalam
perusahaan atau organisasi yang berfungsi sebagai penjamin ketersediaan
material dan barang untuk kelangsungan hidup perusahaan.
·
Tahun 1980an fungsi logistik telah berubah
orientasi menjadi sebuah aliran proses. Pada fase ini, dunia usaha telah
menjadikan logistik sebagai bagian penting dalam sistem. Sedangkan para pakar
dan akademisi menjadikan logistik sebagai ilmu baru yang pada akhirnya
memunculkan konsep Supply Chain Management.
·
Era 1990an untuk pertama kalinya konsep silang
usaha logistik (seperti Just In Time) dan Supply Chain Management didukung
dengan kemutakhiran Teknologi Informasi.
·
Abad 21 merupakan era persaingan global. Kerjasama
usaha merupakan faktor kunci keberhasilan dalam persaingan global, maka muncul
Strategic Supply Chain Management. Strategi SCM yang tepat diyakini mampu
membuat perusahaan atau organisasi memenangkan persaingan.
Upstream dan Downstream
Upstream dan Downstream
·
Bagian upstream (hulu) Bagian
upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan
manufaktur dengan para penyalurannya
(yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya)dan koneksi mereka kepada
pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat
diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya
bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas
yang utama adalah pengadaan.
·
Downstream (arah muara) Downstream
(arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman
produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian
diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.
Contoh :
Pabrik
pembuat kemeja adalah merupakan supply chain yang menghubungkan upstream
(melalui pengusaha kain kepada pengusaha kapas/serat) dan down-stream (melalui
distributor dan retail pada pelanggan akhir).
Push dan Pull Supply Chain
Push
supply chain : Push
system adalah suatu sistem produksi berbasis kepada forecasting dan
menghasilkan output dalam jumlah besar yang nantinya akan masuk kedalam
inventori sebelum disalurkan kepada pelanggan.
Contoh : Sebuah
perusahaan mempromosikan produknya ke media televisi ataupun radio. Tidak
mungkin bagi pembeli untuk berinteraksi langsung dengan pihak perusahaan.
Informasi produk “didorong” ke pembeli.
*Forecasting adalah
proses perkiraan/pengukuran kedepannya menggunakan data yg telah ada, tujuannya
adalah dimana perencanaan ini dilakukan sebagai penghubung antara perusahaan
dengan konsumen.
Pull supply chain :Pull
system adalah suatu sistem produksi dimana perusahaan harus selalu mengikuti
permintaan pasar. Dalam pull system metode forecasting jarang dilakukan,
produksi benar-benar dilakukan atas pemintaan pelanggan.
Contoh : Manufaktur mobil Ford Australia. Ford Australia hanya memproduksi mobil ketika mereka telah diperintahkan oleh pelanggan
Contoh : Manufaktur mobil Ford Australia. Ford Australia hanya memproduksi mobil ketika mereka telah diperintahkan oleh pelanggan
Peran teknologi informasi pada SCM
Peran IT pada SCM yaitu memungkinkan pembagian
cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh
SCM ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diarahkan
pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialah mengintegrasikan
data permintaan dan suplai jadi gambaran yang akurasinya sudah meningkat dapat
diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi
ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Jadi dengan adanya
integrasi ini dalam SCM akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.
Pendapat Michael Porter tentang rantai nilai Chain Management
Pendapat Michael Porter tentang rantai nilai Chain Management
Value Chain Porter adalah
model yang digunakan untuk membantu menganalisis aktivitas-aktivitas spesifik
yang dapat menciptakan nilai dan keuntungan kompetitif bagi organisasi.
Aktivitas-aktivitas tersebut dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
a.
Primary
activities :
·
Inbound
logistics : aktivitas yang berhubungan dengan penanganan material sebelum
digunakan.
·
Operations
: akivitas yang berhubungan dengan pengolahan input menjadi output.
·
Outbound
logistics : aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan produk ke tangan
konsumen.
·
Marketing and sales : aktivitas yang
berhubungan dengan pengarahan konsumen agar tertarik untuk membeli produk.
·
Service : aktivitas yang mempertahankan atau
meningkatkan nilai dari produk.
b.
Supported
activities :
·
Procurement
: berkaitan dengan proses perolehan input/sumber daya.
·
Human Resources Management : Pengaturan SDM
mulai dari perekrutan, kompensasi, sampai pemberhentian.
·
Product
& Technological Development : pengembangan peralatan, software, hardware,
prosedur, didalam transformasi produk dari input menjadi output.
·
Administrative
& Finance Infrastructure : terdiri dari departemen-departemen/fungsi-fungsi
(akuntansi, keuangan, perencanaan, GM, dsb) yang melayani kebutuhan organisasi
dan mengikat bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan.
Times 5
Pengertian dari Strategi bisnis/perusahaan
Pengertian dari Strategi bisnis/perusahaan
Strategi Adalah pendekatan secara keseluruhan yang
berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah
aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
Strategi Bisnis Perusahaan Adalah Sebuah Senjata Bagi perusahaan bisnis tersebut untuk melihat
sesuatu lebih jauh kedepan guna untuk menjaga daya tahan sebuah perusahaan
menjadi lebih baik dan Aman. Biasanya stategi Bisnis perusahaan Itu Sudah
Terbentuk Sebelum perusahan bisnis itu di buat yaitu terletak di dalam VISI dan
MISI dari perusahaan Tersebut jadi bagimana sebuah perusahaan mempertahankan
visi dan misi nya itulah strategi bisnisnya perusahaan bisnis tersebut.
Strategi
bisnis/perusahaan memiliki beberapa tingkatan diantaranya :
Tingkatan Strategi bisnis Perusahaan :
a.Strategi
Multidomestik/Multinasional
b.Strategi
Global
c.Strategi
Perusahaan Transnasional
Penjelasan :
a.Strategi Multidomestik/Multinasional
Perusahaan memberikan banyak kebebasan pada anak-anak
perusahaannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berada dalam wilayah
mereka. Dimana perusahaan induk membiarkan para anak perusahaan mengembangkan
produk dan praktek mereka sendiri.
b.Strategi Global
Strategi global mengumpulkan pengendalian di
perusahaan induk. Perusahaan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan di seluruh
dunia dengan produk-produk standar. Produk untuk seluruh pasar dunia diproduksi
secara sentral dan dikirimkan pada anak-anak perusahaan.
c.Strategi Perusahaan Transnasional
Perusahaan induk dan semua anak perusahaan bekerja
sama memformulasikan strategi dan kebijakan operas, dan menkoordinasikan
logistik agar produk mencapai efisiensi dan integrasi global, sambil
menyediakan fleksibilitas di tingkat lokal.
Tahapan-tahapan dalam penyusunan strategi bisnis/perusahaan
Dalam
penyusunan strategi bisnis terdapat ilmu yang disebut dengan “manajemen
strategis”. Manajemen strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan
pengevaluasian keputusan-keputusan lintas fungsional yang dapat memungkinkan
suatu perusahaan mencapai sasarannya (Wikipedia, 2013)
Ada tiga tahapan dalam manajemen strategis, yaitu perumusan
strategi, pelaksanaan strategi, dan evaluasi strategi. Dalam
perumusan strategi terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
·
Melakukan analisis situasi, evaluasi diri dan
analisis pesaing: baik internal maupun eksternal; baik lingkungan mikro maupun
makro.
·
Bersamaan dengan penaksiran tersebut, tujuan
dirumuskan. Tujuan ini harus bersifat paralel dalam rentang jangka pendek dan
juga jangka panjang. Maka di sini juga termasuk di dalamnya penyusunan
pernyataan visi (cara pandang jauh ke depan dari masa depan yang dimungkinkan),
pernyataan misi (bagaimana peran organisasi terhadap lingkungan publik), tujuan
perusahaan secara umum (baik finansial maupun strategis), tujuan unit bisnis
strategis (baik finansial maupun strategis), dan tujuan taktis.
Dalam pelaksanaan strategi, perusahaan melakukan apa yang sudah
direncanakan. Setelah hal yang telah direncanakan telah usai dilaksanakan,
tidak semerta – merta kegiatan itu ditinggalkan begitu saja. Ada tahap yang
disebut dengan evaluasi. Di tahap ini kita melakukan tinjauan terhadap kegiatan
yang telah dilaksanakan apakah sudah sesuai rencana dan mencapai tujuan atau
malah sebaliknya. Hal ini diperlukan untuk melakukan perbaikan – perbaikan
terhadap kualitas kerja yang nantinya berguna apabila rencana tersebut akan
dipakai lagi atau malah diperbaharui untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Hubungan Strategi Bisnis dan Strategi E-Bussines
E-business
sama seperti halnya bisnis biasa namun dengan memanfaatkan media elektronik. Maka
dari itu sama halnya seperti bisnis, e-business pastinya membutuhkan strategi
untuk dapat berjalan sesuai dengan tujuan perusahaan. Teknologi informasi
adalah sarana penunjang paling potensial dalam penerapan e-business dewasa ini.
Maka dari itu, teknologi informasi menjadi salah satu potensi yang dapat
meningkatkan daya saing perusahaan dalam mencapai tujuannya. Tanpa perencanaan
dan strategi yang matang, e-business mungkin dapat berjalan tapi apakah dalam
pelaksanaannya dapat bertahan lama sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan
sesuai visi dan misi itulah yang menjadi persoalan. Beberapa yang perlu
dipertimbangkan dalam pembentukan strategi e-business :
- Penyusunan rencana pengembangan
Dalam perancangan suatu e-business
dibutuhkan susunan – susunan rencana yang digunakan selama mengembangkan sistem
yang akan digunakan.
- Pembangunan secara bertahap/dinamis
Implementasi e-business dalam suatu
usaha yang sebelumnya belum menerapkan e-business harus dilakukan secara
bertahap dan tidak langsung. Ada yang beriringan berjalan dengan sistem lama,
implementasi separuh (separuh sistem lama, separuh sistem e-business) atau
bahkan implementasi langsung. Selain itu butuh evaluasi terus – menerus dalam
penerapan e-business yang dikarenakan perkembangan teknologi yang berjalan
sangat cepat.
- Perlu menetapkan prioritas implementasi
Seperti yang dijelaskan sebelumnya,
implementasi e-business ada yang beriringan berjalan dengan sistem lama,
implementasi separuh (separuh sistem lama, separuh sistem e-business) atau
bahkan implementasi langsung. Dalam hal implementasi perlu memperhatikan
prioritas, cara implementasi yang mana yang sangat dibutuhkan perusahaan.
- Pemilihan teknologi yang tepat
Tidak semua perusahaan membutuhkan
ERP, CRM dan lain sebagainya. Maka dari itu sekali lagi yang perlu ditekankan
adalah kebutuhan dari perusahaan menurut tingkat urgensinya. Penggunaan
teknologi sebaiknya berdasarkan hal – hal yang menjadi kebutuhan paling
mendesak dalam hal menunjang kinerja perusahaan dalam pencapaian tujuan.
- Penyiapan sumber daya
Diperlukan banyak sumber daya yang
diperlukan dalam penerapan e-business antara lain sumber daya teknologi dan
manusia. Dalam hal sumber daya teknologi, perusahaan ada baiknya memperhatikan
hal – hal yang menunjang bekerjanya sistem e-business tersebut seperti
contohnya penggunaan hardware tertentu, penggunaan jasa web hosting, kerjasama
dengan institusi penyedia jasa internet dan lain sebagainya. Sedangkan dalam
hal sumber daya manusia perusahaan perlu melatih para pegawainya yang nantinya
akan bekerja menggunakan sistem e-business. Namun ada baiknya dilakukan
perundingan dengan pegawai – pegawai senior untuk melakukan musyawarah apakah
sistem layak diterapkan atau tidak.
- Pengembangan diserahkan pihak ketiga
Tidak sepenuhnya dalam penerapan
e-business dalam pengembangannya ditangani oleh pihak perusahaan sendiri.
Diperlukan third party dalam pengembangannya sehingga perusahaan dapat tetap
fokus dalam kegiatannya mencapai tujuan.
Langganan:
Postingan (Atom)